Tangga Rumah

Tangga rumah pusaka itu berdiri teguh, kayunya sudah dimamah usia, namun setiap ukiran dan deritannya seolah menyimpan rahsia. Setiap kali kakiku melangkah naik, ada gema halus yang menyusup ke telinga, bagai bisikan yang hanya terdengar bila aku seorang. Malam itu, bulan mengintai dari celah awan, dan rumah itu sunyi, terlalu sunyi sehingga setiap hela nafasku terasa berat.

Aku baru saja pulang dari menziarahi seorang sahabat. Jam hampir menunjukkan pukul satu pagi. Saat kaki memijak anak tangga pertama, aku terasa dingin yang aneh, bukan sekadar dingin angin malam, tetapi dingin yang menusuk tulang, seolah-olah ada mata yang sedang memandang dari kegelapan.

“Kriuk… kriuk…” bunyi tangga berderit panjang, padahal aku berdiri kaku di situ. Aku tahu, itu bukan sekadar kayu tua yang longgar. Bayangan mula bermain di dinding, bayangan yang bukan milikku. Panjang, melilit, bergerak naik dari bawah. Jantungku berdegup deras, bagai genderang perang yang dipalu dalam dada.

Aku cuba melangkah naik dengan hati-hati. Semakin tinggi aku jejak, semakin kuat bau hanyir menusuk hidungku, seolah-olah darah lama yang membeku pada kayu itu kembali hidup. Di anak tangga ketujuh, aku berhenti. Pandanganku tertancap pada sesuatu sehelai kain putih kusam, terjepit di celah papan tangga. Aku tarik perlahan, tetapi kain itu seolah ditahan dari bawah. Saat aku menarik lebih kuat, terdengar suara serak dari bawah tangga, “Jangan usik aku…”

Aku hampir terlepas kain itu, peluh menitik deras di dahi. Tanganku menggigil, kaki seakan dipaku. Tiba-tiba, dari bawah rumah, terdengar derapan kaki kecil, seperti kanak-kanak berlari-lari riang. Tapi aku tahu, rumah itu tiada siapa kecuali aku. Suara tawa halus bergema, naik bersama angin, membuat bulu romaku menegak.

Aku terus melompat turun, meninggalkan kain putih itu di tempat asalnya. Sampai di tanah, aku menoleh sekali lagi. Dan di atas tangga, samar-samar kulihat sosok hitam kecil, duduk mencangkung, matanya merah menyala, memerhati tanpa berkedip.

Malam itu aku tidak tidur. Aku duduk di ruang tamu, membaca ayat-ayat suci sehingga azan subuh berkumandang. Keesokan harinya, aku ceritakan pada mak. Dia hanya mengangguk perlahan, lalu berkata dengan nada berat, “Tangga rumah ini pernah menyaksikan kematian. Ada roh yang masih belum pergi. Jangan pandang enteng, setiap kayu, setiap deritannya… ada kisah yang bersemadi.”

Sejak itu, setiap kali melangkah naik ke rumah, aku tidak lagi memandang tangga sebagai sekadar laluan. Ia adalah sempadan antara dunia kita dan sesuatu yang menunggu di bawahnya.

Hantar kisah anda : fiksyenshasha.com/submit

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.