Langit malam di Desa Bayu Hitam selalu terasa lebih kelam, seolah dewi bulan enggan menumpahkan sinarnya sepenuhnya di atas atap-atap yang berlumut. Di sana, di antara pohon-pohon beringin tua yang akarnya menjalar seperti urat nadi bumi, tersembunyi sebuah kisah yang hanya dibisikkan dalam kegelapan kisah tentang Makhluk Tanpa Kepala.
Kisah ini berpusat pada seorang pemuda bernama Rian, seorang pengukir kayu yang jiwanya terlalu sensitif terhadap getaran alam. Baginya, setiap helai daun adalah puisi, dan setiap desir angin adalah bisikan purba. Namun, kepekaan itu pula yang membawanya pada jurang ketakutan.
Sepi itu bukan sekadar tiada suara,
Ia adalah gaung dari ketiadaan yang sempurna,
Menyusup di antara denyut jantung yang gementar,
Mencari celah pada dinding nalar.
Rian tinggal di pinggir hutan, di sebuah rumah kayu yang seakan-akan merangkul kesunyian. Ia sering mendengar cerita dari para tetua desa tentang seorang pengawal kerajaan di masa lampau yang dihukum pancung karena berkhianat. Konon, arwahnya tak pernah tenang, berkeliaran mencari keadilan yang telah dicabut bersama kepalanya, sebuah mahkota kehormatan yang kini hanya berupa leher yang merintih.
Malam itu, malam yang bertepatan dengan bulan mati saat kegelapan mencapai puncaknya Rian sedang menyelesaikan ukiran patung seorang prajurit. Matanya lelah, namun tangannya terus bergerak, seolah didorong oleh daya magis. Tiba-tiba, aroma lumut basah dan darah kering memenuhi ruangannya, dinginnya menusuk hingga ke sumsum tulang.
Angin berhembus liar dari jendela yang tertutup, membuat sumbu pelita menari-nari putus asa. Rian menahan napas. Ia tahu, Ia telah datang.
Kala sunyi mematung di ambang pintu,
Sebuah langkah kaki yang terhenti, namun terus memburu.
Bukan jejak sepatu di tanah basah,
Melainkan getaran duka dari jiwa yang lelah.
Dari celah jendela, ia melihatnya. Sosok itu tinggi, berpakaian zirah usang yang berkarat, memancarkan aura kehampaan yang mencekam. Di atas bahu yang kekar itu, yang seharusnya adalah kepala, hanyalah sebuah rongga hitam, seperti malam yang telah kehilangan bintangnya.
Makhluk Tanpa Kepala itu bergerak perlahan, langkahnya seperti dentuman genderang kematian yang tertunda. Ia tidak memiliki mata, namun Rian merasa dirinya sedang diperhatikan dengan intensitas yang melampaui penglihatan biasa. Itu adalah tatapan dari ketiadaan, sebuah penghakiman senyap.
Rian mencoba bersembunyi di balik almari tua, jantungnya berdetak kencang, sebuah irama liar yang terasa terlalu keras di tengah keheningan kosmik itu.
Rian merasakan ketakutannya tumbuh secara eksponensial seiring berjalannya waktu.
Makhluk itu berdiri tepat di depan rumahnya, mematung. Rian tahu, makhluk itu sedang mencari sesuatu mungkin kepala yang hilang, mungkin pengakuan atas pengkhianatan yang tak pernah ia lakukan, atau mungkin sekadar cahaya yang bisa ia padamkan.
Tiba-tiba, Makhluk Tanpa Kepala itu mengangkat tangannya yang bersarung besi. Jari-jari itu perlahan menunjuk ke arah ukiran prajurit yang Rian buat patung yang kepalanya baru saja ia selesaikan.
Di saat itulah Rian sadar. Legenda mengatakan, arwah itu akan mencari kepala pengganti, sebuah penebusan visual atas kehampaan yang ia tanggung.
Sebuah suara, atau lebih tepatnya, sebuah gaungan pedih yang berasal dari rongga leher, terdengar. Itu adalah rintihan tanpa kata, sebuah melodi patah hati yang terlahir dari pengkhianatan dan kematian yang tak adil.
Kepala adalah mercusuar jiwa, tempat bertahta akal dan mimpi,
Ketiadaannya adalah kutukan abadi, sebuah penantian tanpa tepi.
Ia bukan mencari mata untuk melihat, tapi mencari suara untuk meratap,
Mencari rupa, untuk sekedar merasa utuh di hadapan alam yang menjerat.
Makhluk itu melangkah maju. Lantai kayu berderit, bukan karena beban fisiknya, tapi karena beban duka yang ia bawa.
Rian, didorong oleh sebuah keberanian yang lahir dari keputusasaan, mengambil patung kepala prajurit itu dan melemparkannya ke halaman.
Makhluk Tanpa Kepala itu terhenti. Ia perlahan membungkuk, meraih patung kepala kayu itu, dan memeluknya ke rongga lehernya. Untuk sesaat, Rian melihat pantulan bayangan yang berbeda di zirah Makhluk itu; bayangan seseorang yang sedikit lebih utuh, meski hanya dengan kepala palsu yang terbuat dari kayu.
Lalu, secepat kedatangannya, ia pergi. Menghilang ditelan gelapnya malam, meninggalkan Rian sendiri dengan aroma darah kering dan keheningan yang kini terasa lebih berat dari sebelumnya. Ia telah pergi, namun rintihan tanpa kepala itu bersemayam di dinding-dinding rumah Rian, menjadi janji bahwa di setiap bulan mati, pencarian itu akan selalu berulang.