Sang Janda Tetanggaku

Melelahkan tetapi menyenangkan, itulah yang kurasakan saat ini. Tubuhku lelah karena sibuk memindahkan barang, tetapi hatiku senang ketika menata barang-barang tersebut sehingga tersusun rapi dalam hunian yang tak begitu besar ini. Dengan demikian, kurasakan waktu berlalu begitu cepat.

Baru dua minggu berlalu sejak aku mengontrak hunian di rumah susun ini. Harga yang terjangkau dan letak yang strategis membuatku tak ragu lagi untuk memilihnya.

Dari ruangan yang terletak di lantai tiga ini bahkan aku bisa menikmati pemandangan sekitar yang cukup menghibur hati.

Aku bisa melihat melihat anak-anak bermain di taman bermain depan rusun, kereta yang hilir mudik masuk dan keluar stasiun, bahkan kolam air mancur yang ramai dikunjungi burung-burung merpati. Aku yakin diriku akan betah tinggal di sini.

Kantor tempatku bekerja berada tak jauh dari rusun ini. Aku tak perlu berangkat pagi dengan tergesa-gesa seperti tempat tinggalku sebelumnya, karena akses transportasi di sini cukup mudah.

Aku bisa sarapan dengan tenang dan menyempatkan diri menelpon kekasihku sebelum berangkat kerja. Aku merasa beruntung tinggal di sini.

*****

Akhir-akhir ini aku sering bertemu dengan Ratna, seorang karyawati bank swasta yang tinggal di hunian sebelahku. Ia adalah seorang janda yang sangat cantik dan baik hati.

Tak heran jika banyak lelaki terpikat padanya. Bahkan diriku yang sesama wanita pun terpesona oleh kecantikannya. Ia berkulit putih dan memiliki rambut hitam panjang berkilau.

Meskipun begitu, Ratna tampak belum ada keinginan untuk mencari pengganti suaminya. Ia selalu menolak lelaki-lelaki yang menyatakan perasaan padanya.

Kami sering bertemu pada pagi hari ketika hendak berangkat kerja. Entah kebetulan atau memang jadwalnya sama, aku dan dia selalu membuka pintu bersamaan.

Kami saling menyapa dan tertawa setiap kali hal itu terjadi. Ratna juga belum lama tinggal di sini. Ia baru dua bulan mengontrak huniannya dan sebagai sesama warga baru, ia sangat perhatian padaku.

Sejak itu kami menjadi sahabat akrab. Kami selalu mengobrol tentang berbagai hal, bercanda dan tertawa bersama.

Ratna tinggal seorang diri. Suaminya meninggalkan dirinya tanpa alasan dan tidak diketahui keberadaannya sampai sekarang.

Dia terlihat sedih setiap kali membicarakannya. Terlebih lagi ia belum memiliki anak. Ratna pasti merasa kesepian, aku bisa memahaminya.

Oleh karena itu, aku akan menjadi teman baginya. Aku ingin mengenalkannya pada teman-temanku, tetapi aku ragu jika harus mengenalkannya pada Heru, kekasihku.

Heru tinggal di daerah yang cukup jauh dari sini. Ia bekerja di sebuah perusahaan kontraktor. Aku mulai pacaran dengannya sejak semester akhir kuliahku. Heru bukan tipe lelaki petualang. Ia belum pernah punya pacar sebelumku.

Dirinya sangat sayang padaku serta berusaha untuk tidak melihat wanita lain kecuali aku dan ibunya.

Terkadang sifatnya cenderung posesif, namun ia selalu meminta maaf setiap aku menegurnya. Heru adalah pria yang pengertian. Bahkan dialah yang membantuku menemukan hunian ini sebelum aku sempat mencarinya.

Setiap akhir pekan atau waktu luang, Heru selalu datang mengunjungiku. Setiap kali berkunjung, ada saja yang dibawanya. Entah itu bingkisan, karangan bunga, makanan, DVD film, bahkan video game favoritnya untuk dimainkan bersamaku.

Baginya, menemuiku bagaikan oase yang menghilangkan kepenatannya. Aku tahu kondisi perusahaan Heru yang sedang berkembang pesat membuatnya sibuk dengan pekerjaan.

Memahami hal tersebut, aku pun menghargai setiap waktuku bersamanya. Aku ingin menjadi orang yang menyenangkan baginya sebagaimana ia selalu menyenangkan diriku.

*****

Pada suatu malam di akhir pekan, aku tak sengaja mempertemukan Heru dengan Ratna. Saat itu kami berpapasan dengan sang janda ketika sedang mengantar kekasihku ke gerbang untuk pulang.

Kami saling bertegur sapa sehingga dengan terpaksa aku harus mengenalkannya. Hatiku sedikit cemas, khawatir pertemuan ini akan mempengaruhi hubunganku dengan Heru.

Bagaimana tidak?

Ratna memiliki daya tarik serta pengalaman yang tidak kumiliki dalam berhubungan dengan pria. Aku takut ia akan merebut Heru suatu hari nanti, namun kenyataan membuatku terkejut.

Reaksi Heru saat bertemu Ratna berbeda dari yang kuduga. Ketika sang janda menyambutnya hangat, pria itu seperti tersentak kaget lalu buru-buru menarik tangannya saat berjabat tangan.

Selain itu, Heru hanya tersenyum sejenak ketika mengucapkan namanya kemudian segera pamit meninggalkan kami. Aku tak tahu apa yang terjadi dengannya, tetapi kekasihku tampak berusaha menghindari Ratna.

Aku memang mengenal dia sebagai pria yang setia padaku, namun reaksinya tak perlu berlebihan seperti itu. Terus terang ia membuatku malu. Di lain pihak, Ratna tampak terkejut dan sedikit kecewa, namun ia berusaha memakluminya. Aku pun meminta maaf padanya.

Aku menghubungi Heru dan menanyakan mengenai sikapnya pada Ratna. Kekasihku itu meminta maaf dan mengutarakan perasaannya.

Sesuai dengan yang kuduga, Heru merasa risih dan takut dengan Ratna. Perasaan itu bukan semata-mata karena ia tidak tertarik dengan wanita yang lebih tua atau janda, melainkan ada sesuatu yang membuatnya menghindari Ratna.

Heru tidak bisa menjelaskan dengan pasti apa penyebabnya, namun yang pasti, ada sesuatu yang tidak beres dengan wanita itu. Meskipun demikian, aku dan Heru berharap kejadian ini tidak mempengaruhi hubungan kami berdua.

*****

Sejak pertemuannya dengan Heru, Ratna menjadi semakin sering datang ke hunianku. Ia selalu menanyakan tentang kekasihku dan itu membuatku kesal. Aku selalu menolak untuk menjawabnya karena pria itu milikku dan ia tak berhak untuk mengambilnya.

Awalnya sang janda hanya sedikit kecewa dengan sikap menolakku, namun semakin lama ia semakin keras kepala. Ia tetap memaksaku untuk memberikan informasi tentang Heru.

Menanyakan kabarnya, alamatnya, tempat dia bekerja, orang tua dan lain sebagainya. Aku muak dengan semua itu. Kuputuskan untuk menjauhi Ratna sementara waktu.

Aku mengacuhkan tegur sapanya, aku menghindari komunikasi dengannya. Aku tidak membukakan pintu baginya dan aku menghindari kontak mata dengannya. Sebetulnya aku benci memutuskan persahabatan dengannya, tapi ini demi kepentinganku dan Heru.

Kesenjangan antara aku dan Ratna semakin meningkat. Aku dan dia tidak lagi saling berhubungan. Kami tak pernah lagi berbicara selama beberapa hari sampai pada suatu hari Heru menelponku.

Aku terkejut mendengar kabar bahwa Ratna telah mendatangi rumahnya dua kali. Bahkan sang janda mendatangi kantornya dan memaksakan diri untuk bertemu Heru.

Ia membuat keributan di sana. Entah dari mana Ratna mengetahui keberadaan Heru, yang pasti, orang yang paling kusayangi itu merasa terganggu.

Pria itu memberitahukan dirinya tidak tinggal di rumah untuk sementara dan meminta diriku agar melarang Ratna untuk menemuinya.

Segera setelah menerima telepon dari Heru, aku semakin geram dengan janda itu. Saat ini sudah malam, Ratna pasti sudah pulang. Aku bergegas menuju huniannya. Tak disangka saat aku membuka pintu, Ratna berada di depan. Dia hendak pergi ke suatu tempat.

Aku menahan langkahnya dan menanyakan tempat yang ia tuju. Betapa marahnya diriku saat ia tanpa beban mengaku akan mengunjungi Heru.

Aku mengultimatum dirinya agar jangan lagi mendatangi kekasihku karena aku dan Heru sama-sama tidak menginginkannya. Aku tidak rela seseorang merebut satu-satunya tambatan hatiku tanpa melangkahi mayatku, namun janda itu malah tertawa.

Dengan sombong ia menyangkal prinsipku. Ia mengatakan dirinya berhak menyukai siapa saja dan siapa pun tak bisa menolaknya. Ratna mengakui bahwa selama ini tak ada seorang pun pria yang tidak tertarik padanya.

Namun ketika bertemu dengan Heru yang menolak dirinya, entah mengapa hati sang janda selalu memikirkannya dan membuatnya gelisah.

Ratna jatuh cinta pada Heru dan tak peduli meskipun ia sudah ada yang punya. Ia sesumbar akan mendapat cintanya lebih dari diriku.

Magma seakan bergejolak dari hatiku. Emosi memuncak dan membakar otakku. Aku benar-benar marah atas apa yang kudengar. Ratna sudah keterlaluan. Dikuasai oleh api amarah, aku tak dapat mengendalikan tubuhku.

Tanpa sadar, kedua tanganku mendorong tubuh Ratna sekuat tenaga. Aku sama sekali tak mengingat rangkaian tangga turun ke lantai dua di belakangnya. Saat kesadaranku kembali, wanita itu telah terhempas.

Ratna jatuh berguling-guling menuruni anak tangga dengan kasar dan keras. Suara gemertak tulang yang patah dan remuk terdengar di sela-sela gemuruh benturan.

Aku berdiri terpaku bagai patung, berusaha mengerti apa yang baru saja kulakukan. Saat suara gaduh itu berhenti, aku menyadarinya. Aku mendorong Ratna jatuh dari tangga. Aku membunuhnya.

*****

Tenagaku seakan lenyap dari tubuhku. Aku jatuh lemas. Jantungku berdegup kencang, tanganku gemetar, mataku tak berkedip, dan keringat dingin membasahi tubuhku.

Apa yang telah kulakukan?

Ini tidak mungkin terjadi!

Ini hanya mimpi!

Aku tidak sengaja melakukannya!

Ini adalah salahnya!

Diliputi kecemasan dan ketakutan, aku merangkak menuju mulut tangga. Perlahan aku melongok ke bawah. Aku melihat Ratna terbujur kaku di ujung tangga dengan posisi mengenaskan. Tubuhnya tertekuk menghantam dinding, kedua tangan dan kakinya patah terpelintir ke arah yang salah.

Ya Tuhan!

Mengapa jadi begini?

Aku memanggil namanya, tak terlalu keras tapi juga tak terlalu pelan, berharap ia akan menjawab, tapi sepertinya tidak mungkin. Wanita itu sudah bisu, tak bernyawa, m**i. Ia tak bergerak lagi seperti yang kulihat. Kalau sudah begini aku lupa akan masalahku dengannya. Yang tersisa dalam diriku hanya penyesalan.

Namun mataku menangkap sesuatu!

Aku menaikkan kepalaku dan menajamkan pandangan. Aku tak melihat wajah Ratna karena posisinya yang membelakangiku, namun pada bagian belakang kepalanya yang biasa tertutup oleh rambut hitam yang indah itu tampak ada sesuatu.

Saat kuperhatikan lebih seksama, aku terkejut setengah m**i hingga tersentak ke belakang.

Aku melihat wajah lain. Muka seorang pria yang tak pernah kulihat sebelumnya tertanam di bagian belakang kepala Ratna dan memperlihatkan ekspresi ketakutan.

Siapa dia?

Mungkikah itu suaminya?

Aku pasti sedang berhalusinasi. Trauma atas sesuatu. Ini tak nyata, namun terasa begitu nyata. Aku harus bangun dari mimpi ini.

Pandanganku masih terpaku pada tubuh Ratna yang kaku, dan aku hampir tak percaya dengan apa yang kulihat selanjutnya.

Bagaikan menyadari rahasianya terbongkar, kepala wanita itu bergerak. Perlahan dan kaku Ratna menoleh ke arahku, bahkan hingga 180 derajat dan terdengar suara derak patah lehernya.

Wajah pria itu telah digantikan wajah sang janda yang mengenaskan dengan mata yang membelalak, d***h mengucur dari hidung serta mulut menganga akibat patah rahang.

”Kau telah melihatku…!!!”.

Demikian ia bersuara lirih, namun jelas terdengar olehku dan ia mengatakan kalimat itu berulang-ulang.

Ini sungguh di luar akal sehatku. Ratna masih hidup. Serta merta tubuhnya bergerak. Dengan tetap berada dalam kondisi terpelintir, tangan dan kakinya tertatih-tatih menyeret tubuh yang rusak itu menaiki tangga.

Sambil terus mengulang kalimat yang sama, ia berusaha merangkak terbalik ke arahku. Aku meringsut mundur. Tak jelas suasana apa yang ada dalam hatiku, namun yang jelas, ketakutan melingkupi tubuhku.

Aku tak bisa berpikir jernih. Pandanganku kabur seperti televisi yang kehilangan sinyal. Saat aku berhasil meraih secuil kesadaranku, aku berlari ke dalam hunianku lalu mengunci rapat pintunya.

Napasku memburu, jantungku berdegup kencang, dadaku sakit dan tanganku gemetar. Anehnya, aku tak bisa berteriak. Dalam keadaan panik yang amat sangat, yang terlintas dalam kepalaku adalah Heru.

Aku bergegas menuju kamar untuk meraih ponsel. Kupaksakan jariku untuk menekan tombol buku telepon dan mencari namanya.

Kekalutan ini membuat jempolku bergerak seperti menulis SMS sambil berlari. Sulit sekali melakukannya karena gemetar

hebat, tapi akhirnya aku berhasil melakukannya.

Kepanikan sekali lagi melanda saat menunggu jawaban dari Heru. Ketika nada sambung terus memanggil dirinya, pintu digedor keras. Itu adalah dia, aku tak mau bertemu dengannya saat ini dan selamanya.

Jangan dekati aku!

Jangan dekati Heru!

Kumohon, angkatlah Heru!

Seketika nada panggil berakhir. Tanpa menunggu lawan bicara menjawab, aku langsung berteriak.

”Heru… Heru…!!! Kamu dimana? Tolong aku Her! Tolong ke sini! Heru…!!!”

Saat aku sadar belum ada jawaban, suara mendesir menyelip sejenak dari dalam ponsel.

”Kau telah melihatku…!!!”

Aku menjatuhkan ponsel. Pikiranku kosong. Pandanganku kosong. Helaian-helaian rambut hitam panjang masuk dari sela-sela pintu dan kisi-kisi kamarku. Mereka mengikat tangan dan kakiku serta membelit tubuhku.

Dari langit-langit di atas, turun potongan kepala Ratna. Wajah mengerikan itu melihatku, membuat napasku terhenti dan tenggorokanku tertahan.

Saat rahang Ratna yang patah terbuka lebar, semuanya menjadi gelap.

Dalam kegelapan itu akhirnya aku mengetahui alasan mengapa Heru menjauhi Ratna.

Rating Pembaca
[Total: 27 Average: 4]

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.