Pagi-pagi selepas malam yang penuh bisikan itu, aku bangun dengan tubuh terasa berat dan mata yang sembab. Senandung syaitan masih terngiang di telinga, seolah-olah suara itu meresap ke dalam darah. Walaupun matahari bersinar terang dan burung berkicau di luar rumah, bayang hitam malam tadi tetap menghantui ruang fikiranku.
Rumah sewa ini makin terasa sempit, udara jadi lembap, dan aku mula perasan setiap sudut gelap menyimpan sesuatu. Kadang-kadang, bila aku duduk diam di ruang tamu, aku dengar suara tapak kaki berjalan perlahan di tingkat atas. Dinding kayu tua bergetar, seperti menahan nafas panjang yang tak pernah dilepas.
Satu hari, waktu petang, aku terdengar suara nyanyian itu lagi. Tapi kali ini, lagu itu bertukar lirik lebih aneh, lebih menggoda, dengan irama yang seolah-olah menari bersama bayang-bayang di lantai.
“Mari menari di gelanggang duka,
Hati yang luka kami jemput bersama,
Dalam cahaya senja,
Syaitan berbisik,
menjemput kau pulang ke dunia mereka…”
Aku berdiri di depan tingkap, melihat pohon sena yang bergoyang perlahan. Daun-daunnya bergetar, tapi angin tak terasa. Sekilas, aku nampak susuk perempuan bertudung labuh berdiri di bawah pohon, rambut panjang mengurai, matanya redup memandang ke arah rumah. Dia tidak tersenyum seperti dalam mimpi wajahnya penuh kesedihan, seolah-olah ingin memberitahu sesuatu.
Malam itu, suara senandung berubah menjadi ratapan. Tangisan dan tawa bercampur, bersilih-ganti, menenggelamkan suara aku sendiri yang membaca doa penenang hati. Aku duduk bersila di atas katil, menahan air mata yang entah kenapa jatuh sendiri. Suhu bilik tiba-tiba menurun, dan dari celah dinding, aku lihat bayang hitam berkerumun semakin ramai, semakin dekat.
Dalam kabus mimpi, aku terseret ke tengah hutan. Pohon sena menjulang hitam, akar-akar melilit pergelangan kakiku. Di sekeliling aku, sosok lelaki tua dan perempuan bertudung mula menari perlahan, berpegangan tangan dalam lingkaran yang tidak pernah putus.
Di tengah lingkaran, ada sebuah tempayan lama, pecah di tepi, berisi air hitam yang pekat. Setiap kali aku menjerit, suara itu ditelan malam. Dari dalam tempayan, muncul tangan hitam, jari-jari panjang mencengkam udara, melambai-lambai memanggil aku. Suara itu semakin garau, kini bercampur suara kanak-kanak ketawa, suara lelaki mengaji, dan suara perempuan menyanyi. Semua suara itu bersatu berpusing dalam kepala.
“Masuklah… biar segala bebanmu kami pikul. Di sini, malam tak pernah tidur…”
Aku terjaga dengan badan menggeletar. Peluh dingin menitis di dahi, dan bilik aku kini berbau kapur barus bercampur asap kemenyan. Di hujung katil, aku lihat bekas tapak kaki kecil, basah dan berlumut. Aku cuba yakinkan diri, itu hanya mimpi. Tapi suara senandung syaitan kembali, kali ini makin kuat, makin nyata, dan aku mula sedar aku tidak bersendirian.
Sejak malam itu, hidup aku mula berubah. Setiap malam aku dirundung mimpi aneh, setiap pagi aku terjaga dengan parut baru di lengan atau betis, seperti dicakar sesuatu dari dunia lain. Aku cuba cari bantuan, jumpa ustaz di surau, bawa pulang air penawar. Tapi suara itu tetap datang, kadang-kadang dalam bisikan yang lembut, kadang-kadang dalam tawa nyaring yang buat bulu roma meremang.
“Sinambungan syaitan,
takkan terputus dek azan,
takkan lemah dek doa,
kerana kami lahir dari luka yang kau simpan…”
Suatu malam, aku nekad keluar rumah, berjalan menuju pohon sena di halaman. Cahaya bulan samar, tanah berembun, dan udara penuh bau tanah basah. Di bawah pohon, perempuan bertudung itu berdiri menunggu. Wajahnya lebih jelas, matanya basah oleh air mata, mulutnya bergetar.
“Aina, jangan dengar… jangan ikut suara mereka. Patahkan sinambungan sebelum terlambat,” bisiknya, sebelum tubuhnya larut bersama angin, hilang ke dalam kegelapan.
Aku terduduk, hati penuh tanda tanya dan ketakutan. Siapa perempuan itu? Apa makna sinambungan syaitan yang selalu disebut-sebut dalam nyanyian dan mimpi?
Malam itu, untuk pertama kalinya, aku berdoa sambil menangis, memohon agar semua gangguan berakhir. Tapi dalam tangis, aku tahu cerita ini belum tamat, senandung syaitan masih mencari mangsa, dan aku baru saja menjejak langkah ke dunia mereka yang tak bertuan.
“Selagi malam bersenandung,
Selagi syaitan menari,
Aku dan mereka bersatu dalam mimpi,
Menunggu waktu… menunggu korban berikutnya.”