Senandung Syaitan: Warisan Malam (Bahagian Akhir)

Malam itu, rumah kayu tua benar-benar jadi medan pertempuran antara keberanian dan keputusasaan. Suara senandung makin jelas, setiap baitnya menikam jiwa, setiap lenggok melodi seperti mengelilingi ruang dan menutup telinga dari azan yang berkumandang dari surau kampung.

Aku duduk membatu di tengah ruang tamu, tubuh terasa ringan seperti roh sudah separuh melayang. Cermin di sudut bilik memantulkan bayang-bayang yang menari tanpa suara, dan di lantai papan yang sejuk, aku masih genggam kertas kuning warisan Melur. Di luar, pohon sena menari, daun-daunnya bagai berbisik kata-kata lama.

Bau kemenyan dan bunga kenanga memenuhi rumah. Setiap kali aku pejam mata, aku tenggelam ke satu lorong panjang, penuh kabus, di hujungnya samar-samar terlihat perempuan berkain batik lusuh dan anak-anak kecil berlari sekelilingnya. Mereka melambai, wajah mereka tanpa mata, mulut ternganga memanggil-manggil aku agar dekat.

“Aina, darahmu penjaga,
Suaramu kunci pintu dunia.
Melodi kami dendam beratus tahun,
Jangan ingkar,
Jangan diam.”

Aku cuba baca apa saja ayat yang aku hafal. Lidah kelu. Di luar kawalan, suara aku sendiri mula menyambung melodi yang merasuk, seolah-olah ada sesuatu yang menuntun bibir aku untuk mengulang bait demi bait yang tertulis di kertas kuning pusaka itu.

Air mata aku mengalir. Dalam kabur cahaya lampu minyak, bayang perempuan tua Melur mula membesar di belakangku, rambutnya menjulur panjang ke lantai, matanya kini jelas: kosong dan dalam, bagai lubang tak berpenghujung. Anak-anak kecil mula berkerumun, menyanyi mengelilingi aku.

Suasana jadi berat. Udara menebal. Dinding papan seakan-akan merenggang, memperlihatkan dunia lain di balik celah kayu hutan gelap, akar-akar tua, api kecil menari dan jasad-jasad yang duduk bersimpuh tanpa suara.

“Kau harus pilih, Aina…” suara Melur berbisik perlahan, kedengaran dari dalam kepala. “Tolak kami, malam ini, atau jadi sebahagian dari kami, selama-lamanya.”

Jari-jari hitam mula melilit pergelangan tangan aku. Kuku-kuku panjang menggores kulit, darah menitis ke lantai. Nyanyian jadi semakin kuat nyaring, menyakitkan telinga, bercampur dengan tangisan dan tawa.

Aku menjerit dalam hati, memohon pada Tuhan, pada semua roh yang baik agar membantu. Tapi suara Melur makin kuat, bait lagunya menjerat roh dan jasad:

“Jika darahmu menolak,
Jangan harap siang menjenguk.
Jika suaramu menyambut,
Dendam kami hidup, generasi tak putus…”

Dalam detik itu, aku teringat pesan Mak Siti: “Jika kau mahu lepas, lawan suara dengan suara. Lawan melodi dengan doa.”

Dengan sisa kekuatan, aku baca ayat Kursi, keras sekuat hati, walaupun suara sendiri terputus-putus. Nyanyian Melur makin menjerit, dinding bergetar, lampu minyak terpadam satu persatu. Anak-anak kecil menutup telinga, bayang Melur meraung panjang, wajahnya terherot jadi makhluk hitam tanpa bentuk.

Aku terus membaca, terus menjerit dalam doa, hingga akhirnya semuanya senyap. Angin masuk meluru, menutup pintu dan tingkap sendiri. Suara senandung lenyap, hanya tinggal nafas berat dan bau tanah basah.

Aku terjelepok di lantai, darah masih menitis. Rumah gelap total. Tapi aku tahu, malam itu aku menang. Dalam hening subuh, aku dengar suara perempuan tua jauh di luar jendela:

“Aina… kau lepaskan kami,
Tapi warisan ini… tetap menunggu.
Jangan biar sunyi bertakhta,
Kerana senandung syaitan akan hidup,
Setiap kali darah keluarga berbisik dengan malam…”

Aku menangis, bersyukur, tapi dalam hati aku tahu, warisan ini tak akan pernah benar-benar hilang. Aku hanya penangguh, bukan penghapus.

Dan sampai hari ini, jika kau mendengar suara nyanyian dari rumah tua yang berdiri di bawah pohon sena, jangan balas, jangan cari. Kerana di situ, dendam lama masih mencari suara baru dan aku, Aina, hanya salah satu penjaga pintu antara dunia dan gelap.

Tamat..

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.