Ini adalah kisah yang diceritakan langsung kepadaku oleh Puan Aisyah, seorang wanita paruh baya yang kini tinggal di pinggiran Kuala Lumpur. Kejadian ini dialaminya sekitar dua puluh tahun lalu, saat ia sedang mengandung anak pertamanya, seorang bayi lelaki yang sangat dinantikan.
Puan Aisyah dan suaminya, Encik Kamal, baru saja pindah ke sebuah rumah teres dua tingkat di kawasan perumahan yang masih baru. Karena Puan Aisyah sedang hamil muda usianya baru menginjak trimester kedua mereka memilih rumah itu karena lingkungannya yang tenang dan udaranya yang segar.
Awalnya semua berjalan lancar. Namun, tak lama setelah mereka menempati rumah itu, Puan Aisyah mulai merasa ada yang tidak beres.
Gangguan pertama adalah suhu. Meskipun hari sedang panas terik, ada satu sudut di lantai atas, dekat kamar tidur utama, yang selalu terasa dingin menusuk. Jika ia melangkah ke area itu, bulu romanya akan serta-merta merinding.
“Mungkin hanya peredaran udara, Abang,” kata Puan Aisyah kepada Encik Kamal, mencoba menepis rasa takutnya.
Namun, sebagai seorang ibu mengandung, instingnya sangat kuat. Perasaan tidak sedap itu semakin hari semakin membebani, terutama saat malam menjelang. Ia sering merasa diperhatikan, seolah ada sepasang mata yang mengikutinya dari balik bayangan.
Gangguan yang paling nyata dimulai pada bulan kelima kehamilannya. Saat itu, Puan Aisyah sering terbangun di tengah malam tanpa alasan yang jelas. Ia akan mendapati Encik Kamal tidur nyenyak di sampingnya, tetapi ia merasa gelisah.
Suatu malam, sekitar jam 3 pagi, ia terbangun karena mendengar suara. Itu bukan suara dari luar rumah, melainkan suara yang sangat dekat, seperti bisikan.
“Sssshhh… Anak itu milikku…”
Puan Aisyah membeku di tempat tidur. Bisikan itu terdengar dingin, serak, dan penuh kebencian. Itu datang dari arah sudut dingin di kamar mereka.
Ia cepat-cepat menyalakan lampu tidur. Ruangan itu terlihat normal. Encik Kamal menggeliat sedikit tetapi tidak terbangun. Puan Aisyah memaksa dirinya untuk kembali tidur, menenangkan dirinya bahwa itu hanyalah efek dari hormon kehamilan dan mimpi buruk.
Namun, bisikan itu terus berulang di malam-malam berikutnya, selalu mengucapkan hal yang sama: “Anak itu milikku.”
Khawatir dengan kondisi mental dan kandungan istrinya, Encik Kamal akhirnya setuju untuk membawa Puan Aisyah menemui seorang ustaz dan pengamal perubatan tradisional di kampung sebelah, Pak Long Daud.
Begitu Puan Aisyah melangkah masuk ke rumah Pak Long Daud, Pak Long langsung menatapnya dengan pandangan tajam yang menusuk.
“Ada ‘benda’ yang mengikutimu, Nak. Dan dia sangat tertarik dengan janinmu,” kata Pak Long tanpa perlu bertanya.
Pak Long Daud menjelaskan bahwa ada sejenis entiti, kemungkinan Jin Qarin atau sejenis Makhluk Penunggu yang mendiami rumah mereka. Entiti ini telah ‘jatuh hati’ pada janin yang dikandung Puan Aisyah. Dalam kepercayaan lama, ada entiti jahat yang percaya bahwa bayi yang belum lahir, terutama anak sulung yang dikandung ibu yang lemah semangat, adalah ‘hadiah’ yang bisa mereka ambil atau gantikan.
“Makhluk ini ingin mengambil bayi itu saat ia dilahirkan, atau bahkan lebih buruk, ia ingin masuk dan menggantikan janin itu sebelum waktunya,” jelas Pak Long Daud.
Pak Long memberikan beberapa amalan dan air yasin. Ia juga memberikan pesan tegas: “Jangan pernah tinggalkan perutmu tanpa perlindungan saat suamimu tiada.”
Nasihat Pak Long Daud membuat Puan Aisyah semakin berhati-hati. Setiap Encik Kamal pergi kerja, ia akan menggantungkan azimat kecil yang diberikan Pak Long di pintu kamar.
Namun, gangguan itu tidak surut, malah menjadi lebih berani.
Suatu petang, Puan Aisyah sedang mencuci pinggan di dapur. Ia sedang sendirian dan merasakan kelelahannya. Tiba-tiba, ia merasakan tarikan yang kuat pada kain sarung yang melilit perutnya. Tarikan itu bukan tarikan fisik yang bisa dirasakan oleh tangan, melainkan tarikan energi dingin yang membuat perutnya terasa kejang sesaat.
Ia menjerit kecil dan berbalik. Tidak ada siapa-siapa di belakangnya.
Namun, saat ia kembali menoleh ke singki, ia terkejut melihat refleksi dirinya di cermin tingkap dapur. Di belakang bayangannya, berdiri sosok wanita tinggi, kurus, dengan rambut panjang terurai dan senyuman yang sangat lebar senyuman yang tidak wajar.
Sosok itu membungkuk sedikit, dan Puan Aisyah melihatnya menghidu perut bayangannya.
Puan Aisyah menutup mata rapat-rapat sambil membaca Ayat Kursi sekuat tenaga yang ia ingat. Ketika ia membuka mata, sosok itu telah hilang. Tetapi aroma busuk, seperti bangkai yang bercampur bunga melati basi, menusuk hidungnya. Ia muntah di tempat, bukan karena mual kehamilan, tetapi karena ketakutan yang luar biasa.
Puncak dari gangguan itu terjadi seminggu sebelum tanggal perkiraan bersalin Puan Aisyah.
Malam itu, Puan Aisyah sedang tidur sendirian karena Encik Kamal bekerja shift malam. Ia terbangun oleh suara tangisan bayi. Tangisan itu terdengar sangat dekat, seolah bayi itu berada di dalam kamar.
Ia panik. Ia tahu ini bukan tangisan bayinya yang belum lahir, ini adalah umpan.
Saat ia mencoba bangun, ia merasakan tubuhnya ditindih oleh beban yang sangat berat. Ia tidak bisa bergerak. Matanya melihat ke langit-langit kamar.
Tiba-tiba, dari kegelapan di sudut kamar, muncul sosok hitam tinggi yang pernah ia lihat dalam refleksi. Sosok itu perlahan-lahan mendekat, melayang, dan menatap perutnya dengan mata merah menyala.
Ia mendengar bisikan itu lagi, kali ini lebih jelas dan lebih marah:
“Kau tak akan sempat melahirkannya! Dia akan menjadi milikku!”
Makhluk itu mengulurkan tangan yang kurus dan panjang, jari-jarinya yang hitam mengarah lurus ke perut Puan Aisyah. Ia merasakan sensasi dingin menusuk perutnya, seolah ada jarum es yang menembus kulit.
Dalam keputusasaan dan rasa sakit, Puan Aisyah teringat ajaran Pak Long Daud. Ia memejamkan mata, memfokuskan seluruh energinya, dan menjeritkan kalimat takbir sekuat-kuatnya:
“ALLAHU AKBAR! ALLAHU AKBAR!”
Saat kata-kata itu keluar dari mulutnya, disertai dengan jeritan kesakitan, ia merasakan dorongan energi panas yang kuat keluar dari perutnya. Sosok hitam itu menjerit kesakitan, suaranya melengking seperti jeritan kelelawar, dan tiba-tiba menghilang dalam kabut hitam yang berbau belerang.
Puan Aisyah terbatuk dan megap-megap, tubuhnya dibanjiri keringat dingin. Beban di tubuhnya hilang.
Keesokan harinya, Puan Aisyah dilarikan ke hospital karena mengalami kontraksi mendadak. Ia melahirkan seorang bayi lelaki yang sihat dan sempurna, jauh dari sebarang kecacatan atau gangguan spiritual.
Setelah kelahiran itu, Puan Aisyah dan Encik Kamal memutuskan untuk tidak lagi tinggal di rumah itu. Mereka segera menjualnya dan pindah ke rumah yang lebih ramai penghuni.
Puan Aisyah percaya, kasih sayang seorang ibu dan perlindungan dari Tuhan-lah yang melindungi anaknya dari niat jahat makhluk itu. Namun, ia tidak pernah lupa dengan ketakutan yang mencekik selama kehamilannya. Ia selalu berpesan, ibu mengandung adalah sasaran empuk, dan mereka harus sentiasa menjaga keimanan dan semangat mereka agar janin yang dikandung tidak menjadi rebutan makhluk halus.
Itulah kisah Gangguan Ibu Mengandung yang dialami oleh Puan Aisyah.
Hantar kisah anda : fiksyenshasha.com/submit