Kepulan asap rokok membumbung perlahan ke udara malam yang sunyi. Jam menunjukkan pukul 1:00 pagi, dan bintang-bintang di langit kampung terasa lebih dekat daripada biasanya. Aku, Faiz, menikmati setiap detik ketenangan ini di anjung rumah kayu lama orang tuaku. Setelah berbulan-bulan disibukkan dengan hiruk pikuk kota, cuti seminggu ini terasa seperti hadiah terindah.
Aku baru tiba dua hari yang lalu. Kepulangan kali ini disambut dengan kehangatan biasa. Ayah dan Ibu tampak gembira melihatku, dan dua adikku Zul yang duduk di bangku SPM, dan Laila yang masih berumur 15 tahun langsung saja merengek meminta oleh-oleh. Semuanya normal, seperti saat aku masih tinggal di sini.
Ah, satu hal yang belum kuceritakan: Atuk. Ayah dari Ibu. Beliau meninggal setahun yang lalu. Rumah ini adalah rumah pusaka beliau sebelum diwariskan kepada Ibu.
Aku menghisap rokok untuk terakhir kalinya, mataku terarah tanpa sengaja ke sudut halaman, di bawah pohon mangga tua. Di sana, terparkir sebuah peninggalan paling mencolok dari arwah Atuk: sebuah Proton Saga Iswara model lama, berwarna merah maroon yang sudah pudar dan berkarat di beberapa bagian.
Kereta itu sudah tidak bergerak sejak Atuk sakit, kira-kira dua tahun lalu. Sejak beliau tiada, kereta itu hanya menjadi besi tua yang memenuhi halaman. Ayah pernah mencoba menghidupkannya, tapi gagal total. Ia akhirnya membiarkan saja kereta itu di sana.
Malam ketiga aku di kampung.
Malam itulah segalanya bermula.
Aku baru selesai menelepon tunanganku. Tiba-tiba, keheningan malam terasa memekakkan telinga. Bulu romaku meremang tanpa sebab. Aku yakin, tidak ada angin yang berembus malam itu. Udara terasa berat dan stagnan.
Saat mataku kembali tertuju ke kereta Atuk Deg! Jantungku serasa berhenti berdetak.
Pintu depan sebelah kemudi kereta itu terbuka perlahan.
Aku tidak berkedip. Aku kira aku berhalusinasi. Mungkin aku terlalu penat dari pekerjaan. Mungkin mata lelahku salah melihat pantulan cahaya bulan. Aku membuang puntung rokokku dan bangkit berdiri. Aku berjalan dua langkah ke depan, mendekat ke pagar anjung.
“Faiz, kau dah gila ke?” bisikku pada diri sendiri.
Aku memejamkan mata, menghela napas, dan membukanya lagi.
Pintu itu masih terbuka. Terbuka sedikit, seolah-olah ada seseorang yang baru saja keluar atau masuk dari sana.
Keringat dingin mulai membanjiri punggungku. Aku mencoba mencari penjelasan logik. Kunci? Tentu tidak. Kereta itu sudah tidak beroperasi. Angin? Mustahil, tidak ada pergerakan udara sama sekali. Kucing? Pintu kereta lama macam itu tidak akan terbuka hanya karena seekor kucing.
Aku berdiri di sana, terpaku, selama hampir satu minit yang terasa seperti keabadian. Otakku menjerit untuk lari, tapi kakiku seolah terpaku ke lantai kayu anjung. Mataku terus melekat pada ruang gelap di balik pintu kereta yang sedikit terbuka itu.
Tiba-tiba, dari dalam kereta, terdengar bunyi yang sangat halus, seperti gesekan kain lama atau mungkin… tarikan nafas.
Cukuplah! Aku tidak mau ambil risiko.
Aku segera membalikkan badan, melompat anak tangga, dan berlari masuk ke dalam rumah. Aku mengunci pintu dengan dua kali putaran, lalu menuju kamar, dan langsung menyelimuti seluruh tubuhku. Malam itu, aku tidur dengan lampu kamar menyala.
Pagi hari, sinar matahari terasa seperti air suci yang menghalau segala ketakutan semalam. Aku tidak sabar untuk menceritakan kejadian aneh itu.
Saat sarapan, di meja makan yang ramai dengan aroma nasi goreng Ibu, aku memulai ceritaku. Ibu dan Laila mendengarkan dengan saksama. Ayah sudah keluar ke kebun.
“Bu,” kataku sambil menyendok nasi, “Malam tadi… aku nampak benda pelik.”
Aku menceritakan semua, mulai dari keheningan mencekam, hingga pintu kereta Atuk yang tiba-tiba terbuka tanpa sebab.
Ibu diam sejenak, wajahnya menunjukkan sedikit kekhawatiran yang ia coba tutupi. “Kau mungkin penat sangat, nak. Mana ada benda macam tu. Kereta tu dah lama tak bergerak, mungkin ia hanya… turun sendiri.”
Namun, saat itu, Laila, adik perempuanku yang pendiam, tiba-tiba bersuara. Matanya bulat, seperti mengingat sesuatu yang menakutkan.
“Betul, Bang Long. Kereta Atuk memang ada ‘penghuni’,” katanya, suaranya perlahan.
Aku terkejut. Ibu pun memandang Laila dengan pandangan terkejut.
“Laila, jangan cakap yang bukan-bukan!” tegur Ibu, sedikit keras.
“Tak, Bu. Betul!” Laila bersikeras. “Satu malam tu, Laila bangun nak ke tandas. Laila lalu dekat tingkap dapur. Laila nampak dari pantulan cahaya bulan… ada kelibat hitam berdiri betul-betul di belakang kereta Atuk. Dia tinggi sangat, Bu. Dia tak bergerak. Dia cuma berdiri memandang ke dalam rumah kita.”
Laila mengakhiri ceritanya dengan menggigil. Jelas, apa yang ia lihat bukan fantasi anak kecil. Adikku ini bukan tipe yang suka mengada-ada.
Kini, aku dan Ibu saling pandang. Kisahku malam tadi kini dikaitkan dengan pengalaman Laila sebelum ini. Ternyata, gangguan itu sudah ada, hanya saja baru kali ini ia menyerangku secara langsung.
Aku memecah kesunyian yang tegang.
“Bu, Ayah mana? Aku nak cakap dengan Ayah.”
“Ayah pergi kebun,” jawab Ibu, nadanya masih sedikit gelisah.
“Bu, dengar sini,” kataku, meletakkan sudu. “Kereta tu dah tak guna. Ia rosak. Ia hanya mendatangkan masalah. Kenapa kita tak jual saja dekat besi buruk? Panggil Apek yang beli besi buruk tu. Walaupun tak dapat banyak, sekurang-kurangnya kita tak perlu simpan benda tu dekat rumah lagi. Lagi pun, takkan ada orang yang nak beli kereta lama dan rosak macam tu.”
Ibu mengangguk perlahan. Ekspresinya tampak lega dengan cadangan itu, seolah-olah ia sendiri sudah memikirkan hal yang sama tetapi tiada kekuatan untuk melakukannya.
Dua hari selepas kejadian pintu terbuka itu, aku sedang sibuk mengemas barang di kamarku. Tiba-tiba, aku mendengar bunyi bising dari luar rumah—bunyi mesin berat dan jeritan besi yang bergeser.
Aku bergegas keluar. Di halaman, ada sebuah trak kecil berwarna hijau tua yang diparkir di sebelah kereta Atuk. Ayah sedang sibuk berbincang dengan seorang lelaki tua berkulit gelap, yang aku tahu adalah pemborong besi buruk keliling yang biasa datang ke kampung.
Mereka sedang mengikat kereta Atuk dengan rantai tebal. Ayah memberiku senyum kecil.
“Ayah dah panggil dia, Faiz,” kata Ayah, mendekatiku. “Ibumu dah cerita semuanya. Ayah tak nak ambil risiko. Walaupun ia kereta arwah, kalau dah mendatangkan gangguan, lebih baik kita buang jauh-jauh. Lagipun, kereta ni memang dah tak boleh diselamatkan.”
Rupanya, Ibu telah menyampaikan semua ceritaku dan Laila kepada Ayah. Ayah, yang pada dasarnya seorang yang praktikal dan mementingkan keselamatan keluarga, tidak menunggu lama untuk bertindak.
Aku melihat kereta Atuk itu ditarik perlahan-lahan, meninggalkan bekas roda yang dalam di tanah. Pintu depan yang malam itu terbuka, kini diikat rapat dengan tali. Aku hanya berdiri di sana, memperhatikan Proton Saga Iswara itu dibawa pergi, menjauh dari halaman rumah kami, menuju tempat pembuangan akhir.
“Semoga aman damai di sana, Tuk,” bisikku dalam hati, mengucapkan selamat tinggal kepada kenangan dan, yang paling penting, kepada gangguan yang tidak diingini.
Sejak hari itu, rumah kami kembali ke suasana yang tenang dan damai. Keheningan malam kembali terasa nyaman, bukan mencekam. Tiada lagi kelibat hitam yang dilihat Laila. Tiada lagi pintu kereta yang terbuka secara misteri.
Alhamdulillah, tiada gangguan lagi. Sampai sekarang pun, rumah itu tetap aman, seolah-olah roh Atuk sendiri turut lega kerana peninggalan yang membawa masalah itu telah dibuang.
Hantar kisah anda : fiksyenshasha.com/submit