Peninggalan Arwah Atuk

Malam itu, hujan turun dengan lebat, membasahi jalan setapak menuju rumah lama keluarga di kaki bukit. Aku, Arya, datang bersama kedua sepupuku, Rina dan Bima. Kami bertiga baru saja menyelesaikan pembagian warisan dari mendiang Atuk, seorang kolektor barang antik misterius yang meninggal sebulan lalu.

Atuk meninggalkan rumah ini, lengkap dengan isinya yang konon ‘berharga’. Namun, yang paling menarik perhatian kami adalah sebuah surat yang hanya berisi satu kalimat: “Jangan pernah sentuh peti kayu di loteng.”

Loteng rumah Atuk gelap dan berdebu. Cahaya senter kami menyorot ke sekeliling ruangan yang dipenuhi kain usang dan perabotan tua. Dan di sudut sana, seperti yang tertulis dalam surat, teronggok sebuah peti kayu jati berukir rumit. Peti itu terlihat sangat tua, dengan warna kayu yang menghitam seolah terbakar.

“Mungkin ini yang Atuk maksud barang berharga,” bisik Rina, matanya berkilat penasaran.

Bima, yang biasanya paling berani, kali ini terlihat ragu. “Tapi suratnya bilang jangan disentuh. Atuk kan orang pintar, pasti ada alasannya.”

Aku teringat pada cerita-cerita yang sering kami dengar saat kecil. Atuk dikenal sebagai orang yang mempraktikkan ilmu-ilmu lama. Ada desas-desus bahwa beberapa koleksinya tidaklah sekadar barang antik, melainkan media penyimpan… sesuatu.

Saat kami berdebat, mataku menangkap benda kecil di samping peti: sebuah kotak musik kecil berwarna hijau lumut. Tangan jahil Rina sudah lebih dulu meraihnya dan memutar engkolnya.

Terdengar alunan melodi yang indah namun sangat pilu, seperti nyanyian duka. Anehnya, semakin lama kotak musik itu berputar, hawa dingin di ruangan itu semakin menusuk, padahal malam itu tidak terlalu dingin.

Tiba-tiba, bunyi krakkkk yang keras memecah keheningan. Itu suara dari peti kayu! Kami bertiga serentak menoleh.

“Petinya bergerak?” kata Bima, suaranya tercekat.

Kami melihat dengan jelas, tutup peti itu terangkat sedikit, hanya beberapa milimeter, sebelum kembali jatuh dengan bunyi debam yang keras. Rina sontak menjatuhkan kotak musik itu. Musiknya berhenti tiba-tiba.

“Kita harus keluar dari sini!” teriakku.

Saat kami berbalik, pintu loteng yang tadinya terbuka lebar, kini tertutup rapat. Kunci pintu itu sudah berkarat, dan kami tahu itu tidak mungkin terkunci dari luar.

Kepanikan mulai merayapi kami. Bima mencoba mendobrak pintu, tapi sia-sia.

“Arya, lihat!” Rina menarik lenganku, menunjuk ke arah peti.

Melalui celah kecil di antara tutup peti, kini mengalir cairan berwarna hitam pekat, berbau amis seperti tanah basah dan bunga melati layu. Cairan itu mulai membasahi lantai, perlahan membentuk jejak.

Melodi kotak musik yang jatuh tadi tiba-tiba mulai berputar lagi, kali ini jauh lebih pelan, seperti bisikan.

Tu-ru-tup… Pe-ti-nya…

Kami mendengar suara yang sangat berat dan serak, seolah keluar dari tenggorokan yang dipenuhi pasir. Kami tahu suara itu. Itu suara Atuk.

“Atuk? Atuk di sini?” tanyaku bergetar.

Bayangan hitam setinggi manusia perlahan muncul di dinding di balik peti. Bayangan itu bukan bayangan kami. Ia tinggi, kurus, dan salah satu lengannya terlihat panjang menjuntai hingga hampir menyentuh lantai. Bayangan itu bergerak mendekat.

“Atuk bilang, jangan sentuh peninggalan itu,” kata Bima, air matanya mulai menetes. “Kotak musik itu bukan benda, Arya. Itu kunci.”

Cairan hitam dari peti kini sudah mencapai kaki peti, dan udara di sekitar kami menjadi panas, bukan lagi dingin. Aroma melati layu itu kini sangat menyengat, membuat kepala kami pening.

Tiba-tiba, kami merasakan sentuhan dingin di leher kami. Seolah ada jari-jari yang mencengkeram.

“Kalian ambil barang yang bukan milik kalian!” Suara Atuk kini terdengar tepat di belakang kami, berdesis dingin.

Rina menjerit histeris. Ia menoleh ke belakang, dan wajahnya langsung memucat. Ia melihat sosok Atuk. Bukan Atuk yang tersenyum hangat, tapi sosok pucat dengan mata merah menyala, bibir yang mengering, dan kain kafan yang terlihat basah oleh air hitam.

“Kembalikan kunci itu!” raungnya, suaranya bergetar hebat.

Aku melihat ke lantai, ke kotak musik yang jatuh. Kotak musik itu masih berputar, tapi putarannya sudah melambat.

Bima yang tersadar lebih dulu, menendang kotak musik itu menjauh hingga terbentur dinding. Melodi pilu itu langsung terhenti total.

Saat musik itu berhenti, sentuhan dingin di leher kami hilang. Sosok Atuk yang mengerikan itu membeku di tempat, matanya masih merah menyala menatap kami penuh amarah, seolah ia tiba-tiba kehabisan tenaga.

Peti kayu itu kini tertutup rapat, dan cairan hitam itu perlahan-lahan surut kembali ke dalam peti, meninggalkan noda gelap di lantai.

Aku dan sepupuku tidak menunggu sedetik pun. Kami mendorong pintu loteng sekuat tenaga, dan ajaibnya, pintu itu terbuka dengan sekali dorongan. Kami berlari turun, keluar dari rumah tua itu, tanpa menoleh ke belakang, membiarkan hujan lebat menyucikan kengerian yang baru saja kami alami.

Sejak malam itu, kami tidak pernah kembali. Rumah tua itu dibiarkan kosong, bersama peti kayu berukir dan kotak musik yang tergeletak di loteng. Kami tahu, peninggalan Atuk bukan emas atau uang. Peninggalan Atuk adalah sebuah janji dan penjara bagi sesuatu yang seharusnya tidak pernah dibebaskan.

Hantar kisah anda : fiksyenshasha.com/submit

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.