Bilik Sewa Angker di Apartemen

Aku dan sahabat karibku, Dimas, baru saja mendapatkan pekerjaan di pusat kota dan memutuskan untuk mencari tempat tinggal yang terjangkau. Setelah seminggu berkeliling, kami menemukan sebuah apartemen lama di pinggiran kota yang terlihat cukup layak, nama dia Apartemen Cempaka.

Kami berdua terpaksa mengambil unit 302 yang agak terpencil. Apartemen itu memiliki tiga kamar tidur.

Bilik 1: Sudah disewa oleh seorang mahasiswa bernama Rizal, tetapi ia sedang pulang kampung untuk liburan panjang semester.

Bilik 2 & 3: Kosong.

Kami memilih Bilik 3 yang lebih kecil dengan harga sewa yang menarik iaitu RM400 sebulan, sudah termasuk elektrik dan air. Sedangkan Bilik 2 dihargai RM450. Kami mengambil Bilik 3 karena kami berdua merasa cukup berbagi ranjang single untuk sementara waktu demi menghemat pengeluaran.

Kami menghabiskan sepanjang hari untuk mengangkut barang-barang seadanya dan membersihkan bilik kami. Menjelang tengah malam, kami berdua sudah merasa sangat kelelahan. Setelah mematikan lampu, kami berbaring berdampingan di ranjang sempit itu. Cahaya rembulan samar-samar masuk dari jendela.

“Gila, Bilik 3 ini memang kecil, tapi lumayanlah,” bisikku kepada Dimas.

“Lumayanlah. Cuma… kenapa Bilik 2 lebih mahal lima puluh ringgit ya? Padahal ukurannya tak jauh beda,” balas Dimas sambil menguap.

Kami terus berbincang santai, membahas rencana kerja dan sedikit bergosip ringan. Tawa kecil kami mengisi keheningan apartemen yang gelap.

Tiba-tiba, tawa kami terhenti.

KRIETTTT…

Suara itu datang dari Bilik 2, bilik kosong di sebelah bilik kami. Bunyi engsel pintu yang terbuka perlahan. Suara itu begitu jelas, seolah seseorang baru saja mendorong pintu Bilik 2 dan melangkah masuk.

Kami berdua langsung terdiam membeku. Kami saling pandang dalam kegelapan, mata kami membulat penuh tanya.

Siapa?

“Rizal?” bisik Dimas sangat pelan.

“Tak mungkin. Dia bilang baru balik minggu depan,” balasku, menggenggam tangannya erat-erat.

Kemudian, kami mendengar suara lain. Bukan langkah kaki, tapi suara gesekan, seperti sesuatu yang besar diseret di dalam bilik itu.

SREEEET… GGRUUKK…

Kami menahan napas. Rasa kantuk yang tadi mendera langsung hilang ditelan ketakutan.

Setelah keheningan mencekam selama beberapa detik, Dimas berbisik, “Kita cek. Berdua.”

Aku mengangguk setuju. Kami mengambil senter ponsel dan perlahan-lahan keluar dari Bilik 3, jantung kami berdebar tak keruan.

Kami berjalan mengendap-endap menyusuri lorong sempit menuju Bilik 2. Pintu Bilik 1 (milik Rizal) tertutup rapat. Kami berdiri di depan Bilik 2. Pintunya yang berwarna cokelat gelap kini tertutup rapat, seolah tidak pernah ada yang membukanya sedetik lalu.

“Kosong. Tak ada kasut di luar,” kata Dimas, menyorotkan senter ke lantai.

Saat kami bernapas lega dan hendak berbalik…

KRIETTTT! KKKKKKRRRAKKKK!

Pintu Bilik 2 itu tiba-tiba bergerak dengan cepat. Tidak terbuka perlahan, melainkan terbuka lebar dengan sekali hentakan, seolah didorong oleh tangan yang sangat kuat.

Kami terdiam di tempat, lidah kami kelu. Di dalam bilik itu gelap gulita. Tidak ada perabot, tidak ada orang. Hanya kegelapan pekat yang seolah menatap balik ke arah kami. Bau apek dan lembap langsung menyeruak keluar dari bilik yang terbuka itu.

Kami berdiri kaku, lutut kami terasa lemas. Kami tak sanggup melarikan diri, seolah ada kekuatan tak kasat mata yang menahan kami.

Saat kami masih terperangkap dalam ketakutan di depan pintu Bilik 2 yang terbuka menganga, gangguan berikutnya datang dari arah dapur, sekitar lima meter dari tempat kami berdiri.

PRANG!

Suara benturan keras yang diikuti oleh bunyi benda menggelinding.

Kami berdua serentak menoleh. Senter Dimas menyorot ke dapur. Di sana, di lantai keramik, tergeletak tiga buah cawan plastik yang tadi kami letakkan di rak pengering. Cawan-cawan itu seharusnya berada di tempatnya, aman. Kini, mereka terlempar ke lantai, salah satunya sampai terbalik.

Cawan plastik! Benda yang ringan dan hampir tidak mungkin jatuh secara spontan. Ini jelas bukan ulah tikus atau getaran.

Ketakutan kami mencapai puncaknya. Ada sesuatu di apartemen ini, dan ia tahu kami ada di sana.

“Lari!” seruku tanpa pikir panjang.

Kami tidak lagi peduli dengan barang bawaan atau kunci bilik. Kami berlari secepat mungkin, membuka pintu utama unit 302, dan melesat keluar. Kami menuruni tangga secepat kilat, tak berani menunggu lift.

Kami berlari hingga sampai di pos satpam apartemen. Kami memutuskan untuk tidak kembali, sama sekali tidak. Malam itu, kami lepak di luar, duduk di bangku taman hingga menjelang Subuh, memikirkan kejadian gila yang baru kami alami.

Keesokan paginya, dengan mata sembap dan tubuh lesu, kami segera menelepon Tuan Lim, pemilik apartemen. Kami memutuskan untuk menceritakan apa adanya, tanpa mengurangi atau melebih-lebihkan.

Tuan Lim mendengarkan cerita kami dengan ekspresi datar yang sulit diartikan. Setelah kami selesai, ia hanya menghela napas panjang.

“Oh, Bilik 2 ya…” gumamnya pelan.

Kami terkejut. Reaksinya tidak seperti pemilik rumah pada umumnya yang akan membantah.

“Tuan, jadi… Bilik 2 itu memang ada masalah?” tanya Dimas hati-hati.

Tuan Lim hanya mengangguk pelan. “Beberapa penyewa sebelum ini juga tak tahan lebih dari seminggu. Tapi kalian… paling cepat,” katanya, sambil tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak menenangkan.

Kami lega. Kami tidak perlu berdebat panjang lebar. Tuan Lim tampaknya sudah sangat paham dengan reputasi unit 302, terutama Bilik 2.

Tanpa membuang masa, Tuan Lim langsung mengeluarkan dompetnya. Ia mengembalikan sepenuhnya wang deposit sewa kami, tanpa potongan sepeser pun.

“Anggap saja ini rezeki kalian. Lain kali, cari bilik yang lebih cerah ya, Nak. Unit 302 memang sudah lama kosong sebelum Rizal menyewanya,” ujarnya.

Kami sangat bersyukur. Kami tahu, jika bertemu pemilik rumah lain yang keras kepala, kami mungkin harus kehilangan separuh deposit sewa kami sebagai ganti rugi pembatalan sewa mendadak.

Malam itu, kami menumpang tidur di rumah kawan lama yang lain, dan keesokan harinya, kami langsung bergerak cepat mencari bilik sewa baru yang betul-betul berdekatan dengan tempat kerja.

Alhamdulillah. Sekarang kami tinggal di sebuah bilik sewa yang lebih kecil, tetapi jauh lebih aman, tenteram, dan tanpa suara pintu terbuka sendiri. Kami berdua tidak pernah lagi melewati Apartemen Cempaka, dan kami selalu berdoa semoga Rizal baik-baik saja saat ia kembali dari kampung dan harus tidur sendirian di unit 302 itu.

Hantar kisah anda : fiksyenshasha.com/submit

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.